Saraf kejepit di tulang belakang merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Keluhan ini sering ditandai dengan nyeri pinggang, kesemutan, hingga rasa sakit yang menjalar ke kaki. Salah satu kebiasaan yang kerap dikaitkan dengan munculnya keluhan tersebut adalah duduk terlalu lama, terutama ketika bekerja tanpa jeda atau dengan posisi tubuh yang kurang ergonomis.
Pengalaman pasien dr. Muhammad Aulia Rahman yang dibagikan melalui video RSUD Brebes menjadi pengingat bahwa pegal dan nyeri akibat duduk terlalu lama tidak selalu boleh dianggap sepele. Meski demikian, penyebab pasti keluhan setiap pasien perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis. Lantas, apa sebenarnya saraf kejepit di tulang belakang, dan bagaimana cara mencegahnya?
Apa Itu Saraf Kejepit di Tulang Belakang?
Saraf kejepit di tulang belakang adalah kondisi ketika saraf mengalami tekanan atau iritasi akibat jaringan di sekitarnya. Salah satu penyebab yang umum adalah herniasi diskus, yaitu ketika bantalan di antara ruas tulang belakang menonjol dan menekan saraf di dekatnya.
Kondisi ini dapat terjadi di leher maupun pinggang. Jika tekanan mengenai saraf di area pinggang, penderitanya dapat mengalami nyeri yang menjalar dari punggung bawah menuju bokong hingga kaki. Keluhan tersebut sering disebut sebagai skiatika atau sciatica apabila melibatkan saraf skiatik.
Namun, penting dipahami bahwa tidak semua nyeri pinggang merupakan saraf kejepit. Nyeri otot, gangguan sendi, dan masalah tulang belakang lainnya juga dapat menimbulkan gejala serupa.
Mengapa Duduk Terlalu Lama Dikaitkan dengan Saraf Kejepit?

Sumber: Pixabay
Duduk dalam waktu lama, khususnya dengan posisi membungkuk atau tanpa penyangga pinggang yang baik, dapat meningkatkan beban pada struktur tulang belakang. Apabila dilakukan berulang kali, kebiasaan ini berpotensi memperburuk keluhan pada orang yang sudah memiliki gangguan bantalan tulang belakang.
Selain itu, kurang bergerak dapat menyebabkan otot penyangga tubuh menjadi kurang aktif dan memperburuk kekakuan. Meski demikian, duduk terlalu lama tidak secara otomatis menyebabkan saraf kejepit. Kondisi ini biasanya dipengaruhi berbagai faktor, seperti proses penuaan, perubahan pada bantalan tulang belakang, cedera, aktivitas mengangkat beban, dan kebiasaan bergerak.
Oleh karena itu, keluhan pegal setelah duduk lama perlu diperhatikan, terutama apabila rasa sakit terus berulang, semakin berat, atau disertai gangguan saraf.
Gejala Saraf Kejepit di Pinggang yang Perlu Diwaspadai
Gejala saraf kejepit di tulang belakang dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada lokasi dan tingkat tekanan saraf. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:
- Nyeri pinggang yang menetap atau berulang.
- Nyeri menjalar ke bokong, paha, betis, hingga kaki.
- Kesemutan atau mati rasa pada tungkai.
- Kelemahan otot kaki atau kesulitan berjalan.
Baca juga: Ciri Saraf Kejepit yang Serius: Gejala dan Waktu Tepat untuk Berobat
Pengalaman Pasien: Operasi Endoskopi Tulang Belakang di RSUD Brebes
Pengalaman pasien dr. Muhammad Aulia Rahman menjadi gambaran penanganan saraf kejepit di tulang belakang melalui tindakan endoskopi. Sebelumnya, pasien mengalami keluhan yang dikaitkan dengan kebiasaan duduk terlalu lama. Keluhan tersebut menjadi pengingat bahwa nyeri pinggang yang terus berulang, terlebih jika disertai kebas atau gangguan aktivitas, perlu mendapatkan pemeriksaan medis.
Pada 10 Februari 2026, pasien menjalani operasi endoskopi tulang belakang di RSUD Brebes yang dilakukan oleh dr. Muhammad Aulia Rahman, Sp.BS FTB FINS. Prosedur ini menggunakan teknik minim sayatan untuk membantu menangani masalah pada tulang belakang sesuai indikasi medis pasien.
Tindakan dilaporkan berjalan lancar. Pada tahap awal setelah operasi, pasien sudah dapat duduk, berdiri, dan berjalan dengan lebih nyaman. Perkembangan tersebut menjadi langkah awal yang positif dalam proses pemulihan.
Pemulihan dan Fisioterapi
Setelah operasi, pasien mendapatkan pendampingan fisioterapi dari tim RSUD Brebes. Fisioterapi berperan membantu pasien memulihkan kemampuan bergerak, meningkatkan fungsi tubuh, serta kembali menjalani aktivitas secara bertahap sesuai kondisi dan arahan tenaga medis.
Berdasarkan laporan pengalaman pasien, aktivitas sehari-hari kemudian dapat kembali dilakukan secara normal tanpa nyeri dan kebas. Meski demikian, hasil tersebut merupakan pengalaman individual. Keberhasilan tindakan dan kecepatan pemulihan setiap pasien dapat berbeda, bergantung pada kondisi saraf, tingkat keparahan gangguan, kondisi kesehatan, serta respons terhadap pengobatan.
Oleh karena itu, pasien dengan dugaan saraf kejepit di tulang belakang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui pilihan penanganan yang paling sesuai.
Timeline Perjalanan Penanganan
- Gejala awal: Pasien mengalami keluhan yang dikaitkan dengan kebiasaan duduk terlalu lama.
- Pemeriksaan medis: Evaluasi diperlukan untuk menentukan penyebab keluhan dan kesesuaian tindakan. Detail pemeriksaan pada kasus ini belum tersedia.
- Operasi, 10 Februari 2026: Pasien menjalani operasi endoskopi tulang belakang di RSUD Brebes.
- Fisioterapi: Pasien mendapatkan pendampingan pemulihan oleh tim RSUD Brebes.
- Kembali beraktivitas: Pasien melaporkan aktivitas harian kembali normal tanpa nyeri dan kebas.
Perlu diingat, timeline tersebut menggambarkan pengalaman satu pasien dan tidak dapat digunakan untuk memperkirakan waktu pemulihan semua penderita saraf kejepit di tulang belakang.
Cara Mencegah Saraf Kejepit akibat Duduk Terlalu Lama

Sumber: Pixabay
Mencegah saraf kejepit di tulang belakang dapat dimulai dengan memperbaiki kebiasaan sehari-hari. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
- Atur posisi duduk: Sesuaikan tinggi meja dan kursi, gunakan penyangga pinggang, serta pastikan kaki menapak lantai.
- Bergerak secara berkala: Berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan ringan setiap 30–45 menit sebagai anjuran umum.
- Lakukan olahraga: Latihan penguatan otot inti dan peregangan membantu menjaga kekuatan serta kelenturan tubuh.
- Jaga berat badan: Pertahankan berat badan sehat dan gunakan teknik yang benar saat mengangkat beban.
Jika Anda mengalami nyeri menjalar, kebas, atau kaki melemah, evaluasi dini oleh dokter bedah saraf dapat membantu menentukan penanganan yang tepat. Segera cari pertolongan medis jika muncul kelemahan kaki yang memburuk atau gangguan buang air kecil maupun besar.
Konsultasikan Saraf Kejepit Anda di RISEandSPINE
Jangan abaikan nyeri pinggang, kebas, atau nyeri yang menjalar hingga kaki. RISEandSPINE menghadirkan evaluasi menyeluruh untuk membantu menentukan penanganan saraf kejepit yang sesuai, mulai dari terapi konservatif hingga tindakan lanjutan seperti endoskopi tulang belakang bersama dr. Muhammad Aulia Rahman, Sp.BS FTB FINS, sesuai indikasi medis.
Segera konsultasikan keluhan Anda untuk mendapatkan evaluasi dan rekomendasi penanganan yang tepat.
Ditinjau Oleh: Tim Dokter RiseandSpine
Daftar Referensi
- National Health Service (NHS). Slipped Disc. https://www.nhs.uk/conditions/slipped-disc/nhs.uk
- MedlinePlus – U.S. National Library of Medicine. Herniated Disk. https://medlineplus.gov/herniateddisk.html
- National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Low Back Pain and Sciatica in Over 16s: Assessment and Management (NG59). https://www.nice.org.uk/guidance/ng59/chapter/recommendations
- MedlinePlus Medical Encyclopedia. Herniated Disk. https://medlineplus.gov/ency/article/000442.htm
Duduk terlalu lama tidak selalu menyebabkan saraf kejepit di tulang belakang. Namun, posisi duduk yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik dapat memperburuk nyeri pinggang, terutama pada orang yang memiliki gangguan bantalan tulang belakang. Untuk mengurangi risiko, perbaiki posisi duduk dan lakukan peregangan atau berjalan secara berkala.
Saraf kejepit pada ruas L5-S1 dapat menimbulkan nyeri pinggang yang menjalar ke bokong, betis, hingga kaki. Gejala lainnya meliputi kesemutan, kebas, dan kelemahan otot kaki. Lokasi nyeri dan tingkat keparahannya berbeda pada setiap pasien. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.
Ya, banyak kasus saraf kejepit di tulang belakang dapat membaik tanpa operasi. Penanganan dapat berupa modifikasi aktivitas, fisioterapi, latihan sesuai kondisi, dan obat-obatan berdasarkan anjuran dokter. Namun, keberhasilan terapi bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, serta kondisi pasien. Evaluasi medis diperlukan untuk menentukan pilihan penanganan yang sesuai.
Operasi dapat dipertimbangkan jika nyeri menetap meskipun terapi konservatif telah dilakukan, atau jika terdapat kelemahan otot yang memburuk akibat tekanan saraf. Pada kondisi darurat, seperti gangguan buang air kecil atau besar disertai mati rasa di area selangkangan, pasien membutuhkan pertolongan medis segera. Keputusan operasi ditentukan berdasarkan evaluasi dokter
Waktu pemulihan setelah operasi endoskopi tulang belakang bervariasi, bergantung pada kondisi pasien, jenis tindakan, dan tingkat gangguan saraf. Sebagian pasien dapat mulai duduk, berdiri, atau berjalan lebih awal sesuai arahan tim medis. Pemulihan aktivitas secara menyeluruh dapat memerlukan waktu lebih lama, disertai fisioterapi dan kontrol sesuai jadwal dokter.





