Mencari Dokter Spesialis Bedah Saraf di Jakarta? Kenali 5 Dokter RISEandSPINE

dokter spesialis bedah saraf

Daftar Isi

Memilih dokter spesialis bedah saraf yang tepat merupakan langkah penting ketika mengalami gangguan saraf, nyeri tulang belakang, saraf terjepit, skoliosis, hingga kondisi yang berkaitan dengan pembuluh darah otak. Namun, dokter yang tepat bukan hanya ditentukan oleh gelar, pengalaman, atau reputasi, melainkan juga oleh kesesuaian fokus keahliannya dengan kondisi yang dialami pasien.

Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan untuk masalah tulang belakang dan saraf adalah RISEandSPINE. Timnya memiliki lima dokter dengan fokus keahlian yang berbeda, mulai dari teknik bedah tulang belakang minimal invasif hingga penanganan skoliosis, tumor tulang belakang, serta penyakit pembuluh darah otak.

Lalu, bagaimana cara menentukan dokter yang paling sesuai? Berikut panduan mengenali fokus keahlian, pemetaan kondisi, serta profil kelima dokter RISEandSPINE untuk membantu Anda memulai pencarian dokter spesialis bedah saraf di Jakarta.

Mengapa Fokus Keahlian Dokter Spesialis Bedah Saraf Perlu Diperhatikan?

Bedah saraf merupakan bidang kedokteran yang mencakup penanganan gangguan pada otak, sumsum tulang belakang, dan sistem saraf. Meski berada dalam spesialisasi yang sama, setiap dokter dapat memiliki pengalaman klinis dan fokus praktik yang berbeda.

Sebagai contoh, pasien dengan saraf terjepit akibat degenerasi bantalan tulang belakang membutuhkan evaluasi yang berbeda dari pasien dengan skoliosis berat atau tumor tulang belakang. Sementara itu, gangguan pembuluh darah otak memerlukan pendekatan diagnostik dan penanganan yang sesuai dengan karakteristik penyakitnya.

Memilih dokter spesialis bedah saraf berdasarkan fokus keahlian dapat membantu pasien mendapatkan evaluasi yang lebih relevan, memahami pilihan terapi, serta mengetahui kapan tindakan operasi diperlukan. Operasi bukan selalu pilihan pertama karena sebagian kondisi dapat ditangani melalui obat-obatan, rehabilitasi, modifikasi aktivitas, atau tindakan nonoperatif lainnya.

Selain keahlian dokter, pertimbangkan pula fasilitas rumah sakit, pengalaman menangani kondisi serupa, komunikasi selama konsultasi, dan rencana perawatan setelah tindakan.

Tabel Pemetaan Kondisi dan Fokus Keahlian Dokter RiseandSpine

Kondisi atau KeluhanDokter dengan Fokus Relevan
Saraf kejepit umum, kebutuhan pendekatan non-operatif dan minimal invasif, motion preservationdr. Muhamad Aulia Rahman, Sp.BS-FTB, FINSS
Tulang belakang degeneratif, gangguan craniovertebral junction (CVJ)dr. M. Andika Wibisono, Sp.BS
Skoliosis dan deformitas tulang belakangdr. Fabianto Santoso, Sp.BS, FICS, FINSS
Stroke, penyakit pembuluh darah otak dan tulang belakang, trauma kepala, tumor otakdr. Arief Purwodito, Sp.BS
Tumor tulang belakang dan rekonstruksidr. Paul Herman Atmaja, Sp.BS

Profil Lima Dokter Spesialis Bedah Saraf RISEandSPINE

dokter spesialis bedah saraf

1. dr. Muhamad Aulia Rahman, Sp.BS-FTB, FINSS, Spine Surgeon dan Founder RiseandSpine

  • Neurosurgeon spesialis tulang belakang dengan fokus pada pendekatan modern, meliputi biological restoration, minimally invasive endoscopic surgery, dan motion preservation
  • Dikenal dengan pendekatan yang mengutamakan mempertahankan fungsi alami tulang belakang serta meminimalkan kebutuhan operasi fusion
  • Menjalani fellowship dan pelatihan lanjutan di Jepang, Singapura, Thailand, dan China, serta aktif sebagai pembicara di forum internasional seperti Global Spine Congress, ISASS, dan World Endoscopic Spine Society
  • Ditunjuk sebagai international spine educator di Centro Medico ISSEMyM, Toluca, Estado de Mexico, Meksiko
  • Scope of practice: 40 persen biological restorative spine surgery (BMAC, PRP, dan MSC-based therapy), 40 persen motion preservation (selective endoscopic decompression dan artificial disc replacement), 10 persen spinal fusion (dilakukan secara selektif bila memang dibutuhkan secara klinis), 10 persen spinal modulation
  • Praktik di 4 rumah sakit mitra, dengan jadwal aktif 7 hari dalam seminggu

2. dr. M. Andika Wibisono, Sp.BS, Fokus Tulang Belakang Degeneratif dan Craniovertebral Junction (CVJ)

  • Dokter spesialis bedah saraf dengan keahlian dan pengalaman yang terfokus pada penanganan penyakit tulang belakang degeneratif serta gangguan craniovertebral junction
  • Menempuh pendidikan lanjutan Minimally Invasive Spine Surgery di Taiwan dan Thailand
  • Menerapkan pendekatan bertahap, dimulai dari terapi non-bedah hingga solusi pembedahan yang dipertimbangkan dengan matang
  • Untuk kasus kompleks di area perbatasan kepala dan leher, menangani Chiari malformation (bedah terbuka maupun endoskopik foramen magnum decompression), dekompresi odontoid transoral, motion preservation (odontoid screw dan C1 ORIF), serta dekompresi dan stabilisasi atlantoaxial dan occipitocervical
  • Pasien didampingi melalui jalur tata laksana terencana dan berbasis bukti ilmiah, dimulai dari pendekatan paling tidak invasif, dengan tindakan bedah hanya dipertimbangkan bila benar-benar diperlukan secara klinis
  • Praktik di 4 rumah sakit mitra, dengan jadwal aktif 1 hari dalam seminggu

3. dr. Fabianto Santoso, Sp.BS, FICS, FINSS, Fokus Skoliosis dan Deformitas Tulang Belakang

  • Dokter spesialis bedah saraf yang mendedikasikan praktiknya secara khusus pada penanganan masalah tulang belakang (neurospine), dengan fokus utama pada skoliosis dan deformitas
  • Memperdalam ilmu dan teknik penanganan skoliosis tingkat lanjut melalui program AO Spine Fellowship di Nanjing Drum Tower Hospital, China
  • Dipercaya sebagai Ketua Komite Tulang Belakang Anak, Kongenital, dan Rekonstruksi di Indonesia Neurospine Society (INSS)
  • Mengedepankan pendekatan personal, memahami bahwa skoliosis dan deformitas tulang belakang turut membawa dampak emosional bagi pasien dan keluarganya
  • Rencana tata laksana selalu disesuaikan secara spesifik dengan kondisi anatomi dan kebutuhan masing-masing kasus, dengan tujuan akhir mengembalikan kualitas hidup pasien, bukan sekadar mengoreksi postur
  • Praktik di 4 rumah sakit mitra, dengan jadwal aktif 3 hari dalam seminggu

4. dr. Arief Purwodito, Sp.BS, Fokus Stroke dan Pembuluh Darah Otak atau Tulang Belakang

  • Dokter spesialis bedah saraf dengan fokus utama pada stroke serta penyakit pembuluh darah otak dan tulang belakang
  • Menempuh pendidikan lanjutan di Jikei University Hospital Tokyo, Teishinkai Hospital Sapporo, dan National Taiwan University Hospital Taipei, memperdalam keterampilan endovascular dan neurovascular microsurgery
  • Selain fokus pada penyakit pembuluh darah, juga berpengalaman menangani kegawatdaruratan neurologis, trauma kepala, tumor otak, serta gangguan saraf pusat dan saraf tepi
  • Aktif terlibat dalam kegiatan pencegahan stroke, termasuk deteksi dini dan tindakan preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
  • Praktik di 4 rumah sakit mitra, dengan jadwal aktif 2 hari dalam seminggu

5. dr. Paul Herman Atmaja, Sp.BS, Fokus Tumor Tulang Belakang dan Rekonstruksi

  • Dokter spesialis bedah saraf dengan fokus utama pada neurospine surgery, terutama penanganan tumor tulang belakang dan rekonstruksi
  • Memiliki pengalaman internasional melalui program fellowship di Seoul National University Hospital (SNUH), Korea Selatan
  • Keahlian utama mencakup penanganan tumor tulang belakang secara holistik serta rekonstruksi tulang belakang menyeluruh, meliputi diagnostik biopsi, pengangkatan tumor, dan rekonstruksi stabilitas tulang belakang
  • Memprioritaskan pengembangan pendekatan minimally invasive, termasuk menjadi salah satu dokter pertama yang melakukan pengangkatan tumor menggunakan teknik endoskopi
  • Mendalami manajemen nyeri melalui intrathecal morphine injection dan spinal cord stimulation sebagai bagian komprehensif terapi tumor tulang belakang
  • Bagi pasien yang belum memerlukan pembedahan, memiliki keahlian dalam neuroplasty, selective nerve root block (SNRB), sinuvertebral nerve block, serta basivertebral nerve block
  • Praktik di 4 rumah sakit mitra, dengan jadwal aktif 2 hari dalam seminggu

Kesamaan Pendekatan Kelima Dokter RISEandSPINE

Walaupun fokus keahlian mereka berbeda, terdapat beberapa prinsip yang menjadi benang merah pendekatan tim RISEandSPINE.

  • Penanganan sesuai kebutuhan pasien. Rencana perawatan disesuaikan dengan diagnosis, tingkat keparahan, gejala, dan tujuan pemulihan pasien, bukan menggunakan satu pendekatan untuk semua kondisi.
  • Mengutamakan ketepatan diagnosis. Pemeriksaan fisik dan pencitraan seperti MRI atau CT scan, jika diindikasikan, membantu dokter memahami sumber keluhan sebelum menentukan terapi.
  • Mempertimbangkan pilihan nonoperatif. Tidak semua pasien memerlukan operasi. Obat, fisioterapi, perubahan aktivitas, atau pilihan terapi lain dapat dipertimbangkan sesuai diagnosis.
  • Mempertimbangkan teknik modern. Pada kasus tulang belakang tertentu, pendekatan minimal invasif dapat menjadi pilihan apabila sesuai dengan kondisi pasien. Teknik tersebut tidak selalu tepat untuk semua kasus.
  • Berorientasi pada fungsi dan kualitas hidup. Tujuan perawatan tidak hanya meredakan nyeri, tetapi juga membantu menjaga atau memulihkan mobilitas serta fungsi saraf sejauh memungkinkan.

Prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan pendekatan konsultasi personal yang dijelaskan dalam informasi resmi RISEandSPINE.

Baca juga: Konsultasi Dokter Bedah Saraf: Gejala, Pemeriksaan & Pilihan Penanganannya

Konsultasikan Kondisi Anda dengan Dokter Spesialis Bedah Saraf RISEandSPINE

RISEandSPINE menghadirkan lima dokter spesialis bedah saraf dengan fokus keahlian yang beragam dan saling melengkapi, mulai dari penyakit degeneratif tulang belakang, skoliosis dan deformitas, stroke dan gangguan pembuluh darah, hingga tumor serta rekonstruksi tulang belakang. Tim ini juga menghadirkan keahlian dalam teknik bedah modern, termasuk prosedur khusus yang diklaim sebagai yang pertama dilakukan di Indonesia oleh dr. Muhamad Aulia Rahman.

Menentukan dokter spesialis bedah saraf yang tepat merupakan langkah penting untuk memahami kondisi Anda dan memperoleh rekomendasi penanganan sesuai kebutuhan medis. Jangan biarkan keraguan menghambat langkah Anda dalam mencari solusi.

Konsultasikan kondisi Anda dengan tim RISEandSPINE untuk mengetahui pilihan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

Ditinjau Oleh: Tim Dokter RiseandSpine

FAQ Seputar Dokter Spesialis Bedah Saraf

1. Apa itu dokter spesialis bedah saraf (Sp.BS)?

Dokter spesialis bedah saraf adalah dokter yang memiliki pendidikan spesialis dalam mendiagnosis dan menangani gangguan pada sistem saraf, termasuk otak, sumsum tulang belakang, dan saraf tepi, terutama kondisi yang mungkin memerlukan tindakan bedah. Penanganannya dapat mencakup terapi non operatif, pemantauan, maupun prosedur bedah sesuai indikasi medis.
Bidang keahliannya meliputi berbagai kondisi, seperti saraf terjepit, tumor otak atau tulang belakang, cedera kepala, kelainan tulang belakang, dan gangguan pembuluh darah tertentu.

2. Apa beda dokter spesialis bedah saraf dengan dokter spesialis saraf (neurologi)?

Perbedaan utamanya terletak pada bidang spesialisasi dan pendekatan penanganan.
Dokter spesialis bedah saraf (Sp.BS) menangani gangguan sistem saraf melalui evaluasi medis, terapi nonoperatif, dan tindakan bedah apabila diperlukan.
Dokter spesialis saraf (Sp.N atau neurolog) berfokus pada diagnosis dan penanganan gangguan sistem saraf melalui pendekatan nonbedah, seperti pengobatan, pemeriksaan neurologis, dan pemantauan kondisi.

3. Bagaimana cara memilih dokter bedah saraf yang sesuai dengan kondisi saya?

Pilih dokter spesialis bedah saraf berdasarkan fokus keahlian, pengalaman menangani kondisi serupa, serta fasilitas medis yang mendukung perawatan Anda. Siapkan hasil pemeriksaan, seperti MRI atau CT scan jika tersedia, dan catat gejala serta riwayat pengobatan yang pernah dijalani.
Anda juga dapat menanyakan pilihan terapi, manfaat dan risiko tindakan, perkiraan pemulihan, serta kemungkinan penanganan tanpa operasi.
Di RISEandSPINE, pasien dapat mempertimbangkan dokter berdasarkan fokus keahlian yang relevan, mulai dari penyakit degeneratif tulang belakang, skoliosis dan deformitas, gangguan pembuluh darah, hingga tumor dan rekonstruksi tulang belakang. Dokter yang tepat tetap ditentukan berdasarkan hasil evaluasi medis setiap pasien.

4. Apakah semua dokter bedah saraf bisa menangani tumor atau skoliosis?

Tidak semua dokter spesialis bedah saraf memiliki fokus pengalaman dan keahlian yang sama untuk setiap kondisi kompleks. Walaupun memiliki dasar pendidikan spesialis yang sama, dokter dapat mengembangkan kompetensi khusus melalui pendidikan lanjutan, pelatihan, dan pengalaman klinis.
Sebagai contoh, pasien dengan skoliosis atau deformitas tulang belakang sebaiknya mempertimbangkan dokter yang berfokus pada koreksi deformitas. Sementara itu, pasien dengan tumor tulang belakang dapat mencari dokter yang memiliki pengalaman relevan dalam bedah tumor dan rekonstruksi.
Karena itu, memahami fokus keahlian dokter spesialis bedah saraf merupakan langkah penting sebelum menentukan tempat konsultasi dan rencana perawatan.

5. Apakah operasi selalu menjadi pilihan pertama dokter bedah saraf?

Tidak. Operasi bukan selalu pilihan pertama dalam penanganan gangguan saraf. Keputusan terapi bergantung pada diagnosis, tingkat keparahan, gejala, hasil pemeriksaan, dan respons terhadap pengobatan sebelumnya.
Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan obat-obatan, fisioterapi, modifikasi aktivitas, atau terapi non operatif lainnya. Operasi dipertimbangkan apabila terdapat indikasi medis, misalnya gangguan saraf yang progresif, kondisi struktural tertentu, atau keluhan yang tidak membaik dengan terapi konservatif yang sesuai. 
Untuk kasus yang lebih kompleks, dokter juga dapat mengevaluasi pilihan penanganan lanjutan berdasarkan kebutuhan pasien. Konsultasi dengan dokter spesialis bedah saraf membantu Anda memahami manfaat, risiko, dan alternatif setiap pilihan sebelum mengambil keputusan.

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Threads

Booking Appointment

Silakan lengkapi form di bawah ini.
Biaya Konsultasi
Silakan pilih lokasi