Diagnosis skoliosis sering memunculkan banyak pertanyaan: apakah perlu diobati, cukup dipantau, atau bahkan memerlukan operasi? Jawabannya berbeda pada setiap orang.
Penanganan skoliosis ditentukan oleh beberapa faktor, seperti derajat kelengkungan, usia, fase pertumbuhan, gejala yang dirasakan, serta risiko perburukan. Karena itu, terapi yang tepat selalu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Bertepatan dengan Scoliosis Awareness Month di bulan Juni, artikel ini akan membahas berbagai pilihan terapi skoliosis, mulai dari pemantauan rutin dan penanganan konservatif hingga tindakan yang lebih lanjut bila diperlukan. Dengan memahami pilihan yang tersedia, Anda dapat berdiskusi dengan dokter dan mengambil keputusan yang lebih tepat sesuai kebutuhan.
Apa Tujuan Terapi Skoliosis?
Secara umum, terapi skoliosis bertujuan untuk:
- Mencegah kelengkungan bertambah parah, terutama pada anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan.
- Mengurangi nyeri dan rasa tidak nyaman, khususnya pada skoliosis dewasa yang disertai perubahan degeneratif.
- Menjaga fungsi dan mobilitas tubuh, sehingga pasien tetap dapat beraktivitas dengan nyaman.
- Meningkatkan kualitas hidup, termasuk postur tubuh, kepercayaan diri, dan kenyamanan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Yang terpenting, terapi terbaik adalah terapi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien, bukan selalu yang paling agresif.
Tidak Semua Skoliosis Harus Diobati
Kabar baiknya, tidak semua kasus skoliosis memerlukan terapi aktif. Pada skoliosis ringan yang stabil dan tidak menimbulkan keluhan berarti, dokter sering kali menyarankan pemantauan berkala.
Pemantauan ini biasanya dilakukan setiap 6–12 bulan, hingga per tahun untuk melihat apakah sudut kelengkungan (sudut Cobb) berubah seiring waktu. Dengan cara ini, perubahan dapat terdeteksi lebih dini sehingga penanganan dapat disesuaikan bila diperlukan.
Sebagai contoh, pasien yang telah selesai masa pertumbuhannya dengan sudut Cobb di bawah 20 derajat dan tanpa gejala yang mengganggu umumnya cukup menjalani observasi rutin.
Latihan dan Fisioterapi untuk Skoliosis

Fisioterapi menjadi salah satu penanganan non-operatif yang paling sering direkomendasikan karena membantu meningkatkan fungsi tubuh dan mengurangi keluhan.
1. Memperkuat Otot Penyangga
Kelengkungan tulang belakang membuat beban otot menjadi tidak seimbang. Latihan khusus, seperti metode Schroth, membantu memperkuat otot penyangga sekaligus memperbaiki postur sehingga tubuh bekerja lebih seimbang.
2. Meningkatkan Fleksibilitas
Program latihan yang tepat juga dapat menjaga kelenturan tulang belakang dan meningkatkan rentang gerak, sehingga aktivitas sehari-hari terasa lebih nyaman.
3. Membantu Mengurangi Nyeri
Pada pasien yang mengalami nyeri punggung, fisioterapi teratur dapat mengurangi ketegangan otot dan memperbaiki fungsi tubuh.
Perlu diketahui bahwa fisioterapi tidak meluruskan tulang belakang secara permanen, tetapi terbukti membantu mengurangi keluhan dan meningkatkan kualitas hidup.
Terapi Brace (Korset): Untuk Menghambat Perkembangan Skoliosis
Brace atau korset tulang belakang umumnya digunakan pada remaja yang masih dalam masa pertumbuhan dengan sudut Cobb sekitar 20–40 derajat. Tujuannya adalah menghambat bertambahnya kelengkungan, bukan meluruskan tulang belakang.
Pada orang dewasa, brace biasanya tidak digunakan untuk menghentikan progresi, tetapi dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu untuk membantu mengurangi nyeri.
Keberhasilan brace juga sangat dipengaruhi oleh kedisiplinan pemakaian. Penelitian BRAIST yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine (NEJM) menunjukkan bahwa penggunaan brace secara konsisten, sekitar 13 jam atau lebih setiap hari, dapat secara signifikan menurunkan risiko perburukan skoliosis pada remaja yang masih tumbuh.
Peran Pasien dalam Penanganan Skoliosis
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan tulang belakang dan mendukung hasil terapi.
- Tetap aktif secara fisik. Olahraga seperti renang, yoga, atau Pilates dapat membantu menjaga kekuatan dan keseimbangan otot punggung dengan beban yang relatif aman bagi tulang belakang.
- Rutin melakukan latihan yang dianjurkan. Jika dokter atau fisioterapis memberikan latihan khusus, seperti metode Schroth, hasil terbaik biasanya diperoleh ketika latihan dilakukan secara konsisten di rumah, bukan hanya saat sesi terapi.
- Menjaga postur tubuh. Duduk dan berdiri dengan posisi yang baik dapat membantu mengurangi tekanan yang tidak merata pada tulang belakang serta meningkatkan kenyamanan saat beraktivitas.
- Memilih terapi berdasarkan bukti medis. Berbagai metode alternatif sering diklaim dapat meluruskan skoliosis, tetapi hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan pijat atau manipulasi tulang belakang dapat mengoreksi kelengkungan secara permanen. Karena itu, evaluasi dan penanganan oleh tenaga medis tetap menjadi dasar yang penting.
Kapan Skoliosis Perlu Dipertimbangkan untuk Operasi?
Sebagian besar kasus skoliosis dapat ditangani tanpa operasi. Namun, pada kondisi tertentu, tindakan bedah dapat menjadi pilihan untuk membantu memperbaiki fungsi dan kualitas hidup pasien.
Beberapa kondisi yang biasanya menjadi pertimbangan meliputi:
- Sudut Cobb mencapai lebih dari 40–50 derajat pada anak atau remaja yang masih tumbuh, atau lebih dari 50 derajat pada orang dewasa.
- Kelengkungan tulang belakang terus bertambah meski sudah menjalani terapi konservatif.
- Nyeri punggung yang menetap dan belum membaik dengan penanganan non-operatif.
- Deformitas tulang belakang yang mulai memengaruhi fungsi pernapasan.
- Muncul gejala akibat gangguan saraf, seperti kesemutan, kelemahan anggota gerak, atau gangguan kontrol buang air.
Di luar kondisi tersebut, banyak pasien masih dapat menjalani terapi konservatif, seperti observasi berkala, fisioterapi, atau latihan khusus. Jika operasi memang diperlukan, perkembangan teknik bedah modern memungkinkan prosedur dilakukan dengan lebih presisi dan disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien.
Tanda Terapi Skoliosis Perlu Dievaluasi Kembali
Terapi yang sudah berjalan pun perlu ditinjau ulang jika kondisi berubah. Waspadai tanda-tanda berikut:
- Nyeri semakin sering muncul atau intensitasnya meningkat
- Postur tubuh tampak semakin berubah atau asimetri semakin terlihat
- Aktivitas sehari-hari mulai terganggu secara bermakna
- Muncul gejala baru seperti kesemutan, kelemahan, atau sesak napas
Baca juga: Kapan Sakit Punggung Bagian Atas Harus Diperiksa? Kenali 5 Penyebabnya
Terapi Skoliosis yang Tepat di RISEandSPINE

Sumber: Pexels
Setiap kasus skoliosis memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga penanganannya pun perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Di RISEandSPINE, setiap keputusan terapi diawali dengan evaluasi menyeluruh agar solusi yang dipilih benar-benar sesuai kebutuhan.
Pilihan penanganan yang tersedia meliputi:
- Observasi dan pemantauan berkala untuk skoliosis ringan yang stabil, guna memantau perubahan kelengkungan dari waktu ke waktu.
- Fisioterapi dan latihan khusus, termasuk metode Schroth dan penguatan otot inti, yang disesuaikan dengan pola kelengkungan tulang belakang.
- Terapi non-operasi untuk mengelola nyeri, seperti Radiofrequency Ablation (RFA) dan pendekatan restoratif pada kasus tertentu yang disertai nyeri kronis akibat perubahan degeneratif.
- Operasi fusi tulang belakang, yang dipertimbangkan pada skoliosis berat atau progresif untuk membantu memperbaiki dan menstabilkan struktur tulang belakang.
Kesimpulan
Skoliosis tidak selalu memerlukan operasi. Pada banyak kasus, pemantauan rutin, latihan yang tepat, atau terapi konservatif sudah dapat membantu mengelola kondisi dengan baik. Yang terpenting adalah mengetahui derajat kelengkungan dan mendapatkan evaluasi yang akurat sehingga penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu.
Konsultasikan Kondisi Skoliosis Anda di RISEandSPINE
Dalam rangka Scoliosis Awareness Month, ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk mengevaluasi kembali kondisi tulang belakang Anda. Jika sudah memiliki hasil X-ray atau MRI, tim RISEandSPINE siap membantu memberikan penjelasan dan menentukan langkah penanganan yang paling sesuai.
Booking konsultasi online dengan tim dokter tulang belakang RISEandSPINE yang berpraktik di jaringan rumah sakit terdaftar di Jakarta, Bekasi, dan Karawang, sehingga Anda bisa mendapatkan evaluasi yang tepat sesuai kondisi dan kebutuhan.
Ditinjau oleh Dokter RISEandSPINE
─────────────────────────────────────────
Referensi
1. Weinstein SL, et al. Effects of bracing in adolescents with idiopathic scoliosis (BRAIST). New England Journal of Medicine. 2013. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1307337
2. Negrini S, et al. 2016 SOSORT guidelines: orthopaedic and rehabilitation treatment of idiopathic scoliosis during growth. Scoliosis and Spinal Disorders. 2018. https://doi.org/10.1186/s13013-017-0145-8
3. Schreiber S, et al. Schroth physiotherapeutic scoliosis-specific exercises added to the standard of care lead to better Cobb angle outcomes. PLOS ONE. 2016. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0168746
4. Scoliosis Research Society (SRS). Treatment Options. https://www.srs.org/patients-and-families/conditions-and-treatments/parents/scoliosis/treatment
5. American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS). Scoliosis. https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases–conditions/scoliosis/
6. Cleveland Clinic. Scoliosis Treatment. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15837-scoliosis
7. Spine-health. Scoliosis Treatment Overview. https://www.spine-health.com/conditions/scoliosis/scoliosis-treatment
8. Betz RR, et al. Comparison of anterior and posterior instrumentation for correction of adolescent thoracic idiopathic scoliosis. Spine. 1999. PMID: 10493390
9. Spine Society of Indonesia (PABOI). Panduan Klinis Terapi Skoliosis, 2023.





