Edukasi

Beda Skoliosis, Lordosis, dan Kifosis: Apakah Tulang Belakang Normal Melengkung?

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
skoliosis lordosis dan kifosis

Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang ke arah samping sehingga membentuk huruf S atau C. Lordosis adalah kelengkungan tulang belakang yang berlebihan ke arah depan sedangkan kifosis adalah kelengkungan tulang belakang yang berlebihan ke arah belakang. Lordosis merupakan kelengkungan alami pada tulang belakang leher dan pinggang, sedangkan kifosis merupakan lengkungan alami tulang belakang punggung atas pada derajat yang normal.

Tulang Belakang Normal Sebenarnya Memang Melengkung

Banyak orang mengira tulang belakang yang sehat harus benar-benar lurus. Padahal, dari tampak samping, tulang belakang normal memiliki tiga kurva alami yang berperan penting dalam menjaga fungsi tubuh.

Kurva pertama adalah lordosis servikal, yaitu lengkungan ke arah depan pada bagian leher. Kurva kedua adalah kifosis torakal, yaitu lengkungan ke arah belakang pada punggung bagian atas. Kurva ketiga adalah lordosis lumbal, yaitu lengkungan ke arah depan pada bagian pinggang.

Ketiga kurva alami ini bekerja bersama untuk menyerap guncangan saat berjalan, berlari, atau melompat, menjaga keseimbangan tubuh, serta membantu kita berdiri tegak dengan penggunaan energi yang lebih efisien. Berkat bentuk ini, beban tubuh dapat didistribusikan secara merata sehingga tekanan pada tulang belakang dan sendi menjadi lebih kecil.

Insight penting: Jika tulang belakang Anda terlihat benar-benar lurus dari samping, itu justru bukan kondisi yang normal. Yang sehat bukanlah tulang belakang yang lurus sempurna, melainkan tulang belakang yang memiliki kurva alami dengan derajat yang seimbang.

Fakta yang Jarang Dijelaskan: Ketiganya Tidak Sama

Sumber: Pixabay 

Skoliosis, lordosis, dan kifosis sering disebut sebagai kelainan tulang belakang. Namun, banyak orang menganggap ketiganya merupakan kondisi yang sama, padahal masing-masing memiliki penyebab, arah kelengkungan, lokasi, dan kriteria diagnosis yang berbeda.

Secara sederhana, lordosis dan kifosis merupakan lengkungan alami tulang belakang yang normal dalam batas tertentu, sedangkan skoliosis adalah kelengkungan ke samping yang tidak seharusnya ada pada tulang belakang normal. Perbedaan ini penting dipahami karena memengaruhi cara dokter menegakkan diagnosis, menentukan tingkat keparahan, dan memilih penanganan yang tepat.

Perbedaan Utama Skoliosis, Lordosis, dan Kifosis

Perbedaan paling mendasar antara ketiganya terletak pada arah kelengkungan tulang belakang.

  • Skoliosis menyebabkan tulang belakang melengkung ke samping membentuk pola menyerupai huruf S atau C.
  • Lordosis merupakan lengkungan ke depan (cekung) yang secara normal terdapat pada leher dan punggung bawah.
  • Kifosis merupakan lengkungan ke belakang (cembung) yang secara normal terdapat pada punggung bagian atas.

Karena lordosis dan kifosis merupakan bagian dari anatomi normal, kondisi tersebut baru dianggap bermasalah ketika sudut kelengkungannya terlalu besar atau terlalu kecil. Sebaliknya, pada skoliosis, kelengkungan ke samping sekecil apa pun tidak dianggap normal dan akan dievaluasi lebih lanjut melalui pemeriksaan medis.

Memahami Lordosis: Lengkungan Alami pada Leher dan Pinggang

Lordosis adalah lengkungan alami tulang belakang yang mengarah ke depan (cekung) dan umumnya ditemukan pada area leher (servikal) serta punggung bawah (lumbal). Pada kondisi normal, sudut lordosis servikal berkisar sekitar 20–40 derajat, sedangkan lordosis lumbal sekitar 30–50 derajat.

Kondisi ini paling sering dianggap bermasalah ketika lengkungannya berkurang sehingga tulang belakang tampak lebih datar dari normal. Namun, pada beberapa kasus, sudut lengkungan juga dapat menjadi terlalu besar (hiperlordosis), yang sering ditandai dengan perut atau bokong yang tampak lebih menonjol. Kelainan ini dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, termasuk ibu hamil dan individu dengan obesitas.

Memahami Kifosis: Lengkungan Alami pada Punggung Atas

Kifosis juga merupakan lengkungan alami tulang belakang, tetapi berada pada punggung bagian atas (torakal) dan mengarah ke belakang (cembung). Pada orang dewasa, sudut kifosis torakal normal umumnya berkisar sekitar 20–45 derajat.

Jika lengkungannya melebihi rentang tersebut, kondisi ini disebut hiperkifosis atau kifosis berlebihan. Secara visual, kifosis sering membuat punggung tampak membungkuk. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada remaja, misalnya akibat penyakit Scheuermann, maupun pada lansia yang mengalami osteoporosis.

Memahami Skoliosis: Kelengkungan Tulang Belakang ke Samping

Skoliosis berbeda dari lordosis dan kifosis karena bukan merupakan pembesaran atau pengurangan dari kurva alami yang memang sudah ada. Dalam kondisi normal, tulang belakang tidak memiliki kelengkungan ke arah samping jika dilihat dari depan atau belakang.

Oleh karena itu, tidak ada rentang “normal” untuk kelengkungan lateral. Bila pemeriksaan sinar-X menunjukkan tulang belakang melengkung ke samping membentuk pola menyerupai huruf S atau C dengan sudut Cobb sebesar 10 derajat atau lebih, kondisi tersebut sudah dikategorikan sebagai skoliosis.

Skoliosis paling sering terjadi pada area torakal atau lumbal dan umumnya mulai terdeteksi pada anak pra-pubertas hingga remaja. Tanda yang sering terlihat adalah posisi bahu atau pinggul yang tidak sejajar.

Kesimpulan

Lordosis dan kifosis adalah lengkungan alami yang memang diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan fungsi tulang belakang. Keduanya baru dianggap sebagai kelainan apabila sudut kelengkungannya berada di luar rentang normal. Sebaliknya, skoliosis merupakan kelengkungan ke samping yang tidak termasuk bagian dari anatomi normal tulang belakang.

Karena perbedaan tersebut, diagnosis skoliosis, lordosis, dan kifosis tidak dapat disamakan. Pemeriksaan fisik dan pencitraan seperti sinar-X diperlukan untuk memastikan jenis kelengkungan, mengukur derajatnya, serta menentukan apakah kondisi tersebut memerlukan pemantauan atau penanganan lebih lanjut.

Penyebab Masing-Masing Kondisi

Sumber: Pixabay

Meskipun sama-sama memengaruhi bentuk tulang belakang, penyebab skoliosis, lordosis, dan kifosis bisa sangat berbeda.

Skoliosis

Skoliosis paling sering disebabkan oleh skoliosis idiopatik, yaitu kelengkungan yang muncul tanpa penyebab yang diketahui secara pasti dan umumnya terjadi pada masa remaja saat pertumbuhan pesat. Selain itu, skoliosis juga dapat disebabkan oleh kelainan bawaan (kongenital) akibat perkembangan tulang belakang yang tidak sempurna sejak dalam kandungan, serta gangguan neuromuskular seperti cerebral palsy atau muscular dystrophy yang memengaruhi kontrol dan kekuatan otot penyangga tulang belakang. Pada usia lanjut, skoliosis dapat berkembang pada tulang belakang lumbal mengikuti proses degeneratif yang sifatnya asimetris.

Lordosis

Gangguan lordosis dapat terjadi akibat berbagai kondisi pada leher dan punggung bawah. Obesitas, terutama penumpukan lemak di perut, dapat menggeser pusat gravitasi tubuh sehingga lengkungan pinggang berubah. Kehamilan juga dapat menyebabkan peningkatan lordosis karena perubahan distribusi beban tubuh, meskipun umumnya bersifat sementara. Penyebab lainnya adalah spondilolistesis, yaitu pergeseran salah satu ruas tulang belakang ke depan, serta kelemahan otot inti (core muscles) yang mengurangi kemampuan tubuh mempertahankan posisi tulang belakang secara optimal.

Kifosis

Kifosis memiliki beberapa penyebab utama. Kifosis postural merupakan bentuk yang paling sering ditemukan dan biasanya disebabkan oleh kebiasaan postur tubuh yang buruk, seperti sering membungkuk saat duduk atau menggunakan gawai. Pada remaja, kifosis dapat disebabkan oleh penyakit Scheuermann, yaitu kelainan pertumbuhan tulang belakang yang membuat beberapa ruas tulang berbentuk seperti baji sehingga punggung menjadi lebih membungkuk. Pada lansia, osteoporosis merupakan penyebab yang umum karena pengeroposan tulang dapat menyebabkan fraktur kompresi pada tulang belakang dan meningkatkan kelengkungan punggung.

Perlu diingat bahwa tidak semua orang dengan faktor risiko tersebut pasti akan mengalami kelainan tulang belakang. Diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan oleh tenaga medis, dan pada beberapa kasus diperlukan pemeriksaan pencitraan seperti foto sinar-X untuk memastikan penyebab dan tingkat keparahannya.

Baca Juga: Apakah Skoliosis Bisa Sembuh? Ini Fakta yang Perlu Anda Tahu

Cara Sederhana Mengenali Tanda-Tandanya di Rumah

Beberapa perubahan bentuk tulang belakang dapat dikenali melalui pemeriksaan sederhana di rumah. Namun, pemeriksaan ini hanya berfungsi sebagai skrining awal dan tidak dapat memastikan diagnosis.

Untuk mendeteksi kemungkinan skoliosis, salah satu metode yang sering digunakan adalah Adam’s Forward Bend Test. Caranya, berdirilah tegak dengan kedua kaki rapat, lalu bungkukkan badan ke depan hingga punggung sejajar dengan lantai dan kedua lengan menggantung rileks. Minta orang lain mengamati punggung dari belakang. Bila salah satu sisi punggung atau tulang rusuk tampak lebih tinggi daripada sisi lainnya, atau terlihat adanya asimetri yang jelas, kondisi tersebut dapat menjadi tanda yang mengarah pada skoliosis dan perlu dievaluasi lebih lanjut.

Untuk mengenali kemungkinan lordosis atau kifosis, amati postur tubuh dari samping. Perhatikan apakah lengkungan pada leher, punggung atas, atau pinggang tampak jauh lebih menonjol dibandingkan orang lain dengan usia dan bentuk tubuh yang serupa. Lordosis yang berlebihan biasanya membuat pinggang terlihat sangat melengkung ke depan dengan bokong tampak lebih menonjol, sedangkan kifosis yang berlebihan membuat punggung atas terlihat lebih membungkuk dari biasanya.

Perlu diingat bahwa bentuk tubuh, postur, dan fleksibilitas setiap orang memang berbeda. Karena itu, hasil pemeriksaan di rumah tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis. Diagnosis skoliosis, lordosis, maupun kifosis memerlukan pemeriksaan oleh dokter. Untuk skoliosis, diagnosis ditegakkan melalui foto sinar-X dengan pengukuran sudut Cobb, sedangkan penilaian lordosis dan kifosis juga dapat memerlukan pemeriksaan fisik serta pencitraan untuk mengukur derajat kelengkungan dan mencari penyebabnya.

Kapan Harus Waspada dan Berkonsultasi ke Dokter Spesialis?

Tidak semua kelengkungan tulang belakang memerlukan tindakan segera. Namun, ada beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan karena dapat menunjukkan bahwa kondisi sedang berkembang atau membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

Segera berkonsultasi ke dokter, apabila menemukan kondisi ini:

  • Kelengkungan terus bertambah pada pemeriksaan berkala (terutama pada anak yang masih tumbuh)
  • Nyeri punggung yang menetap atau memburuk
  • Gangguan napas (pada kifosis/skoliosis berat)
  • Bahu/pinggul tidak sejajar yang makin terlihat

Setiap kondisi memiliki penyebab dan tingkat keparahan yang berbeda, sehingga penanganannya pun perlu disesuaikan secara individual. Pada banyak kasus, terapi konservatif seperti latihan, fisioterapi, atau penggunaan brace sudah memadai. Namun, untuk kasus yang lebih kompleks, kelengkungan yang terus berkembang, atau keluhan yang tidak membaik dengan terapi sebelumnya, tersedia pilihan penanganan lanjutan, termasuk neuromodulasi dan teknik stabilisasi modern, yang dapat dipertimbangkan sesuai hasil evaluasi dokter spesialis.

Baca Juga: Terapi Skoliosis Modern: Pilihan Penanganan Sesuai Tingkat Keparahan

FAQ Tentang Skoliosis, Lordosis, Kifosis 

1. Apa perbedaan utama skoliosis, lordosis, dan kifosis?

Perbedaan utamanya terletak pada arah kelengkungan tulang belakang. Skoliosis adalah kelengkungan ke arah samping yang membentuk huruf S atau C. Lordosis adalah lengkungan ke arah depan yang berlebihan pada leher atau punggung bawah, sedangkan kifosis adalah lengkungan ke arah belakang yang berlebihan pada punggung atas. Lordosis dan kifosis merupakan pembesaran dari kurva alami tulang belakang, sedangkan skoliosis adalah kelengkungan lateral yang tidak termasuk kurva normal.

2. Apakah lordosis dan kifosis itu normal?

Ya, lordosis dan kifosis adalah bagian dari anatomi normal tulang belakang. Setiap orang memiliki lordosis pada leher dan pinggang serta kifosis pada punggung atas. Kondisi ini baru dianggap sebagai kelainan apabila derajat kelengkungannya menjadi terlalu besar atau terlalu kecil hingga berada di luar batas normal atau menimbulkan keluhan.

3. Berapa derajat yang dianggap skoliosis?

Skoliosis ditegakkan bila pemeriksaan foto sinar-X menunjukkan sudut Cobb sebesar 10 derajat atau lebih. Kelengkungan di bawah 10 derajat umumnya belum dikategorikan sebagai skoliosis.

4. Apakah skoliosis bisa sembuh tanpa operasi?

Tergantung pada penyebab, usia pasien, derajat kelengkungan, dan apakah kelengkungan masih berkembang. Banyak kasus skoliosis ringan cukup dipantau secara berkala atau ditangani dengan fisioterapi dan latihan yang sesuai. Pada anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, brace dapat membantu mengurangi risiko perburukan pada kasus tertentu. Operasi biasanya dipertimbangkan pada kelengkungan yang berat, terus bertambah, atau menimbulkan gangguan fungsi.

5. Apakah anak dengan postur bungkuk pasti kifosis?

Belum tentu. Banyak anak dan remaja tampak membungkuk karena kebiasaan postur yang kurang baik (postural), misalnya saat belajar atau menggunakan gawai. Namun, bila bungkuk tampak menetap, semakin jelas, sulit diluruskan, disertai nyeri, atau terlihat memburuk seiring pertumbuhan, sebaiknya diperiksakan ke dokter. Pemeriksaan fisik dan bila diperlukan foto sinar-X dapat membantu memastikan apakah kondisi tersebut hanya gangguan postur atau merupakan kifosis yang memerlukan penanganan.

Konsultasikan Kondisi Tulang Belakang Anda

RiseandSpine menyediakan layanan penanganan komprehensif untuk berbagai kelainan tulang belakang, termasuk skoliosis, lordosis, dan kifosis. Penanganan disesuaikan dengan penyebab, derajat kelengkungan, usia, serta kebutuhan setiap pasien, mulai dari evaluasi menyeluruh, fisioterapi, hingga prosedur intervensi pada kasus-kasus tertentu.

Di bawah penanganan Dr. Aulia Rahman, tersedia pula pilihan prosedur khusus yang diperkenalkan sebagai bagian dari layanan RiseandSpine di Indonesia bagi pasien yang memenuhi indikasi setelah evaluasi medis.

Setiap pasien memiliki penyebab dan kebutuhan terapi yang berbeda. Melalui booking online, Anda dapat membuat janji dengan tim dokter berpengalaman RISEandSPINE yang melayani konsultasi di jaringan rumah sakit terdaftar di Jakarta, Bekasi, dan Karawang

Ditinjau Oleh: Dokter RiseandSpine

Referensi:

  1. AAOS/OrthoInfo. Kyphosis (Roundback) of the Spine (penjelasan 3 kurva alami tulang belakang) https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases–conditions/kyphosis-roundback-of-the-spine/
  2. Cleveland Clinic. Lordosis (Swayback): Types, Causes & Symptoms https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/23908-lordosis
  3. Ohio State Wexner Medical Center. Spinal Curvature (Scoliosis, Kyphosis and Lordosis) https://wexnermedical.osu.edu/brain-spine-neuro/spine-diseases-conditions/spinal-curvatures
  4.  NCBI Bookshelf (StatPearls). Kyphoscoliosis (rentang derajat normal & klasifikasi keparahan skoliosis) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562183/
  5. Scoliosis and Spine Associates. Kyphosis Overview https://www.scoliosisassociates.com/conditions/kyphosis-overview/
  6.  Kementerian Kesehatan RI (Keslan Kemkes). Lordosis, Kifosis, dan Skoliosis, Apa Bedanya https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/4021/lordosis-kifosis-dan-skoliosis-apa-bedanya

Booking Appointment

Silakan lengkapi form di bawah ini.
Biaya Konsultasi
Silakan pilih lokasi