Edukasi

Degenerative Disc Disease: Memahami Hubungannya dengan HNP dan Pilihan Penanganannya

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
degenerative disc disease

Kasus degenerative disc disease (DDD) seringkali berawal dari keluhan yang tampak sederhana, seperti nyeri pinggang atau leher yang muncul setelah duduk terlalu lama, bekerja, atau melakukan aktivitas tertentu. Seiring waktu, nyeri dapat menjadi lebih sering, disertai rasa kaku, keterbatasan gerak, atau bahkan nyeri yang menjalar ke lengan maupun tungkai ketika perubahan pada diskus turut memengaruhi saraf. Meski hasil MRI dapat menunjukkan adanya degenerasi diskus, temuan tersebut tidak selalu berarti menjadi penyebab utama keluhan. Karena itu, memahami hubungan antara degenerative disc disease, HNP, dan saraf kejepit penting untuk menentukan apakah pasien cukup menjalani terapi konservatif atau memerlukan pilihan penanganan lebih lanjut.

Apa Itu Degenerative Disc Disease?

Degenerative disc disease (DDD) adalah perubahan degeneratif pada bantalan atau diskus intervertebralis yang berada di antara tulang belakang. Diskus berfungsi sebagai peredam beban sekaligus membantu tulang belakang bergerak dengan fleksibel. Seiring bertambahnya usia, diskus dapat kehilangan kandungan air, menjadi lebih kaku, mengalami penurunan tinggi, serta mengalami perubahan pada struktur jaringan di dalamnya.

Istilah “disease” dalam DDD tidak selalu berarti penyakit berat. Sebagian perubahan diskus merupakan bagian dari proses penuaan normal dan dapat ditemukan pada orang yang tidak memiliki keluhan apa pun. Studi pencitraan menunjukkan bahwa tanda degenerasi diskus sangat umum bahkan pada individu tanpa nyeri punggung, dan prevalensinya meningkat seiring usia.

Namun, pada sebagian orang, perubahan tersebut dapat berhubungan dengan nyeri punggung, kekakuan, atau keterbatasan aktivitas. Karena itu, diagnosis DDD sebaiknya tidak hanya didasarkan pada hasil MRI, tetapi harus dikaitkan dengan keluhan dan pemeriksaan klinis.

Bagaimana Degenerative Disc Disease(DDD) Berhubungan dengan HNP?

degenerative disc disease

Sumber: Freepik

DDD dan Hernia Nukleus Pulposus (HNP) memiliki hubungan yang erat, tetapi keduanya bukan kondisi yang sama. Pada DDD, diskus mengalami perubahan struktur dan kualitas. Diskus yang semakin lemah dapat mengalami robekan pada bagian luarnya, yaitu annulus fibrosus. Bila bagian dalam diskus kemudian menonjol atau keluar melalui area yang lemah tersebut, kondisi ini dapat disebut sebagai herniasi diskus atau HNP.

HNP dapat menjadi masalah ketika material diskus menekan atau mengiritasi akar saraf. Kondisi tersebut dapat menimbulkan nyeri yang menjalar dari punggung menuju bokong dan tungkai pada tulang belakang lumbar, atau dari leher menuju lengan pada tulang belakang cervical.

Dengan demikian, hubungan sederhananya dapat digambarkan sebagai: DDD dapat menyebabkan diskus kehilangan kekuatan → diskus lebih mudah mengalami protrusi atau herniasi → HNP tertentu dapat mengiritasi saraf → muncul gejala radikular atau “saraf kejepit”. Namun, tidak setiap DDD menyebabkan HNP dan tidak setiap HNP menyebabkan gejala.

Baca Juga: Apa benar HNP/Herniated Disc Berpotensi Menyebabkan Lumpuh? Kenali Tanda Awalnya!

DDD di MRI: Apakah Selalu Menjadi Penyebab Nyeri?

Ini merupakan salah satu hal terpenting dalam memahami degenerative disc disease. Hasil MRI dapat menunjukkan diskus yang “hitam”, penurunan tinggi diskus, bulging, protrusi, atau perubahan degeneratif lainnya. Akan tetapi, temuan tersebut belum otomatis membuktikan bahwa itulah sumber nyeri.

Penelitian sistematis menunjukkan bahwa berbagai tanda degenerasi tulang belakang juga sering ditemukan pada individu tanpa gejala. Bahkan pada orang dewasa yang lebih muda, degenerasi, bulging, dan protrusi diskus dapat ditemukan tanpa keluhan.

Sebaliknya, beberapa temuan seperti protrusi atau ekstrusi diskus memang lebih sering ditemukan pada orang dengan nyeri dibandingkan kelompok tanpa gejala. Artinya, imaging tetap penting, tetapi harus diinterpretasikan bersama kondisi pasien.

Dokter biasanya mempertimbangkan kesesuaian antara lokasi keluhan, pola nyeri, pemeriksaan saraf, dan temuan imaging. Misalnya, pasien dengan nyeri menjalar sesuai jalur saraf tertentu disertai baal atau kelemahan, kemudian MRI menunjukkan HNP yang menekan akar saraf pada level yang sesuai. Kombinasi seperti ini jauh lebih bermakna daripada sekadar menemukan “DDD” pada MRI.

Baca Juga: MRI: Pengertian, Fungsi, dan Kegunaannya dalam Dunia Medis

Tahapan Penanganan Degenerative Disc Disease

degenerative disc disease

Sumber: Pixabay

Penanganan umumnya dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan penyebab serta tingkat keparahan gejala.

Konservatif

Tahap awal biasanya mencakup modifikasi aktivitas, latihan dan fisioterapi, penguatan otot inti, edukasi postur, pengendalian berat badan, serta obat-obatan sesuai indikasi. Pada kasus tertentu, dokter dapat mempertimbangkan injeksi untuk membantu mengendalikan nyeri atau peradangan. Banyak kasus HNP dengan radikulopati mengalami perbaikan tanpa operasi.

Biological Restorative

Pendekatan Biological Restorative bertujuan mempertahankan atau memperbaiki lingkungan biologis diskus, bukan langsung menggantinya atau membuat segmen tulang belakang menyatu. Berbagai terapi biologis dan regenerative sedang diteliti untuk DDD, tetapi tingkat bukti, jenis terapi, keamanan, dan manfaat jangka panjangnya masih bervariasi. Karena itu, terapi biologis sebaiknya dibahas secara individual berdasarkan bukti ilmiah dan protokol klinis yang tersedia, bukan dianggap sebagai solusi yang pasti dapat “menumbuhkan kembali” diskus. Perkembangan terapi biologis memang menjadi salah satu area penelitian penting dalam penanganan degenerative disc disease.

Artificial Disc Replacement (ADR)

Pada pasien tertentu dengan nyeri yang benar-benar berasal dari diskus degeneratif, kegagalan terapi nonoperatif, dan kriteria anatomi serta klinis yang sesuai, Artificial Disc Replacement (ADR) dapat menjadi salah satu pilihan. Tujuannya adalah mengganti diskus yang bermasalah sambil mempertahankan gerakan pada segmen tulang belakang. ADR bukan pilihan untuk semua pasien dan membutuhkan seleksi yang ketat.

Fusion

Fusion atau fusi tulang belakang bertujuan menghentikan gerakan pada segmen yang menjadi sumber masalah dengan menyatukan tulang belakang pada level tertentu. Prosedur ini dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu ketika indikasi klinis dan anatomi mendukung. Pemilihannya harus mempertimbangkan diagnosis, stabilitas tulang belakang, kondisi diskus dan sendi, usia, aktivitas, serta tujuan pasien.

FAQ Degenerative Disc Disease (DDD)

1. Apa itu degenerative disc disease (DDD)?

Degenerative disc disease (DDD) adalah perubahan degeneratif pada diskus atau bantalan di antara tulang belakang. Diskus dapat kehilangan kandungan air dan elastisitas, mengalami penurunan tinggi, serta menjadi lebih kaku. Perubahan ini dapat menimbulkan nyeri punggung, kekakuan, atau keterbatasan gerak, tetapi tidak selalu menyebabkan gejala.

2. Apakah DDD merupakan penyakit atau proses penuaan normal?

DDD dapat merupakan bagian dari proses penuaan. Perubahan degeneratif pada diskus cukup sering ditemukan pada pemeriksaan MRI, termasuk pada orang yang tidak mengalami nyeri. Karena itu, keberadaan DDD pada MRI tidak otomatis berarti seseorang memiliki penyakit yang membutuhkan tindakan khusus.

3. Apa hubungan DDD dengan HNP?

DDD dapat membuat struktur diskus menjadi lebih lemah sehingga lebih mudah mengalami robekan atau perubahan bentuk. Kondisi tersebut dapat menyebabkan Hernia Nukleus Pulposus (HNP), yaitu ketika material diskus menonjol atau keluar melalui bagian diskus yang melemah. Namun, tidak semua pasien DDD akan mengalami HNP.

4. Apakah DDD sama dengan saraf kejepit?

Tidak. DDD, HNP, dan saraf terjepit merupakan kondisi yang berbeda tetapi dapat saling berkaitan. DDD dapat berkontribusi terhadap perubahan diskus dan penyempitan ruang saraf. HNP juga dapat menekan atau mengiritasi akar saraf sehingga menimbulkan gejala yang sering disebut sebagai “saraf kejepit”.

5. Kapan Artificial Disc Replacement (ADR) dipertimbangkan?

ADR dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu dengan degenerasi diskus yang menjadi sumber nyeri, setelah terapi nonoperatif tidak memberikan hasil yang memadai, dan memenuhi kriteria klinis serta anatomi tertentu. ADR bertujuan mengganti diskus yang bermasalah sambil mempertahankan gerakan pada segmen tulang belakang.

Kesimpulan

Degenerative disc disease merupakan proses kompleks yang dapat menjadi bagian dari penuaan normal, tetapi pada sebagian pasien dapat berhubungan dengan nyeri dan gangguan fungsi. DDD dapat berkontribusi terhadap terbentuknya HNP dan saraf terjepit, tetapi temuan pada MRI tidak selalu berarti penyakit tersebut merupakan sumber gejala.

Karena itu, prinsip terpenting adalah mengobati pasien, bukan sekadar gambar MRI. Evaluasi klinis yang tepat membantu menentukan apakah cukup dengan terapi konservatif, apakah pendekatan Biological Restorative relevan, atau apakah pasien tertentu perlu dipertimbangkan untuk ADR maupun fusion.

Di RiseandSpine, evaluasi degenerative disc disease dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi setiap pasien, mulai dari pendekatan konservatif dan advanced non-operative hingga pilihan tindakan seperti Artificial Disc Replacement (ADR) atau prosedur stabilisasi pada pasien yang memenuhi indikasi.

Jangan biarkan nyeri punggung atau leher terus mengganggu aktivitas Anda. Dapatkan evaluasi yang tepat untuk mengetahui apakah perubahan pada diskus Anda benar-benar menjadi sumber keluhan dan pilihan penanganan yang paling sesuai. Segera konsultasikan Degenerative Disc Disease Anda.

Ditinjau oleh Dokter RISEandSPINE

Daftar Referensi

  1. American Academy of Orthopaedic Surgeons. (n.d.). Degenerative disk disease. OrthoInfo. https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases–conditions/degenerative-disk-disease/
  2. Cleveland Clinic. (n.d.). Degenerative disk disease. Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16912-degenerative-disk-disease
  3. Johns Hopkins Medicine. (n.d.). Degenerative disc disease. Johns Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/degenerative-disc-disease
  4. North American Spine Society. (2020). Diagnosis and treatment of degenerative lumbar spinal stenosis. North American Spine Society.
  5. Adams, M. A., & Roughley, P. J. (2006). What is intervertebral disc degeneration, and what causes it? Spine, 31(18), 2151–2161. https://doi.org/10.1097/01.brs.0000231761.73859.2c

Booking Appointment

Silakan lengkapi form di bawah ini.
Biaya Konsultasi
Silakan pilih lokasi